Rabu, 15 Juni 2011

Karakteristik permintaan dan Penawaran Produk Pertanian

Produksi pertanian dapat disarikan dalam beberapa sifat dan ciri sebagai berikut:
1.      Produksi yang diperoleh dari usaha secara kecil-kecilan (small scale production).
Produksi secara kecil-kecilan ini adalah akibat dari usaha yang dilakukan petani secara kecil-kecilan pula. Padi atau beras, misalnya, dihasilkan oleh berjuta-juta petani. Dengan demikian petani-petani tidak dapat mempengaruhi permintaan atas jenis barang yang dihasilkannya. Mereka sulit untuk saling berkomunikasi dalam hal penjualan, penyimpanan dan sebagainya, karena terbatasnya kemampuan dan pengetahuan akan hal tersebut. Berbeda halnya dengan perusahaan-perusahaan industri, karena telah memiliki kemampuan yang besar untuk menganalisis situasi pasar, melakukan grading, penyimpanan dan sebagainya, maka mereka tidak mengalami kesulitan dalam hal penjualannya. Mereka dapat menguasai atau mengendalikan produksinya sewaktu-waktu, jika permintaan menurun. Perusahaan-perusahaan industri dengan mudah dapat diorganisir atau mengorganisir dirinya. 
2.      Produksi bersifat musiman.
Karena bersifat musiman, maka hasil produksi akan diperoleh pada waktu-waktu tertentu, sesuai dengan umur tanaman yang bersangkutan. Kita tidak bisa memaksakan tanaman padi berbuah pada umur satu bulan, karena kebetulan pada saat itu persediaan beras telah habis atau harga beras terlalu tinggi karena terlalu banyak permintaan. Sifat produksi yang demikian inilah sering menimbulkan kesulitan dalam proses pengimbangan. Begitu pula di saat-saat panen sering dijumpai beberapa kesulitan dalam hal penyimpanan dan pengangkutan. Pada saat ini biaya-biaya penyimpanan dan pengangkutan biasanya meningkat. Pedagang-pedagang pengumpul harus menyediakan modal yang cukup besar untuk membeli hasil-hasil pertanian itu, untuk menyewa gudang dan ongkos transpor.


3.       Produksi terpencar.
Tempat produksi pertanian tidak terpusat, tetapi letaknya terpencar. Hal ini disebabkan petani itu selalu mencari tempat yang keadaan tanah dan iklimnya cocok untuk tanamannya, tanpa memperhitungkan apakah dekat atau jauh dari kota atau pasar. Petani tidak dapat dipaksakan melakukan produksi di tempat yang tandus atau bergunung-gunung, meskipun secara ekonomis mudah dijangkau oleh para pedagang pengumpul atau konsumen. Karena keterpencaran ini maka dapat dibayangkan kesulitan dalam proses pengumpulan agar menjadi suatu jumlah yang besar.
4.          Produk hasil-hasil pertanian bersifat berat (bulky), mengambil banyak tempat (volumnious) dan cepat atau musah rusak (perishable).
Kebanyakan hasil-hasil pertanian timbangannya adalah berat dan memerlukan banyak tempat. Hal ini berarti nilai per satuan berat dan per satuan volume adalah lebih kecil dibandingkan nilai barang-barang industri. Sebungkus rokok yang beratnya beberapa gram nilainya dalam Rupiah kira- kira sama dengan 1-2 kg singkong. Jelas dalam hal ini bahwa akan terjadi perbedaan dalam hal pengangkutan dan penyimpanan. Dapat dibayangkan betapa besar perbedaan nilai jika kita mengangkut 1 ton singkong dan 1 ton rokok pada tarif dan jarak yang sama. Selain itu sifat hasil pertanian juga mudah rusak atau busuk, sehingga diperlukan perawatan dan penyimpanan yang baik dan pengangkutan yang cepat ke tempat konsumen.
Setiap perekonomian tidak selalu mencapai tingkat yang tinggi. Adakalanya ia mengalami resesi dan kemunduran dan adakalanya tenaga kerja dan barang-barang modal hampir sepenuhnya digunakan (berarti kegiatan ekonomi Negara mencapai tingkat kegiatan yang sangat tinggi). Perubahan tingkat kegiatan ekonomi ini akan mempengaruhi permintaan terhadap barang-barang dan jasa-jasa, termasuk terhadap hasil-hasil pertanian. Perubahan permintaan yang disebabkan oleh naik turunnya kegiatan ekonomi ini akan menimbulkan perubahan harga. Akan tetapi sifat perubahan harga ini adalah berbeda untuk berbagai jenis barang. Barang-barang pertanian cenderung mengalami perubahan harga yang lebih besar daripada harga barang-barang industri. Sifat perubahan yang seperti itu disebabkan karena penawaran terhadap barang-barang pertanian, seperti juga dengan sifat permintaannya, adalah tidak elastis.
Ada beberaapa faktor yang menyebabkan penawaran terhadap barang pertanian bersifat tidak elastis:
·         Barang-barang pertanian dihasilkan secara bermusim. Kita lihat saja sebagai contoh masa menanam padi. Ia selalu dilakukan dalambulan-bulan tertentu dan dari tahun ke tahun kebiasaan ini tidak akan berubah walaupun terjadi perubahan harga yang cukup besar.
·         Kapasitas memproduksi sector pertanian cenderung untuk mencapai tingkat yang tinggi dan tidak terpengaruh oleh perubahan permintaan. Petani cenderung untuk secara maksimal menggunakan tanah yang dimilikinya. Pada waktu harga turun mereka akan bekerja giat dan berusaha mencapai produksi yang tinggi agar pendapatan mereka tidak dapat menaikan produksi karena kapasitas produksi mereka (dalam jangka pendek) telah mencapai tingkat maksimal.
·         Beberapa jenis tanaman memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum hasilnya dapat diperoleh. Tanaman seperti ini antara lain adalah tanaman buah-buahan dan bahan-bahan mentah pertanian seperti minyak kelapa sawit dan karet.
Penawaran barang pertanian yang sukar berubah tersebut, yang diikuti pula oleh ketidakelasitan permintaannya, dapat menyebabkan perubahan harga yang sangat besar apabila berlaku perubahan permintaan. Hal ini dapat dengan jelas ditunjukan secara grafik, yaitu yang seperti digambarkan dalam gambar OP.
Di dalam gambar tersebut dibandingkan akibat perubahan permintaan terhadap harga barang pertanian dan barang-barang industri. Gambar OP (i) menunjukan keadaan permintaan dan penawaran barang pertanian, dan gambar OP (ii) menunjukan permintaan dan penawaran barang industri.
Misalkan, pada mulanya permintaan dan penawaran terhadap barang pertanian berturut-turut ditunjukan oleh kurva Dp dan Sp. Sesuai dengan sifat permintaan dan penawaran barang pertanian, yaitu keduanya bersifat tidak elastis, kurva Dp dan Sp adalah tidak elastis.  Keseimbangan adalah di Ep dan berarti harga adalah P dan jumlah barang yang diperjualbelikan adalah Q. Selanjutnya dimisalkan, oleh karena beberapa faktor tertentu, perekonomian mengalami resesi kemunduran ekonomi ini menyebabkan permintaan keatas barang pertanian pindah dari  menjadi dp.. Karena penawaran tidak mengalami perubahan maka keseimbangan yang bari dicapai di titik ep.. Dengan demikian harga barang pertanian telah merosot menjadi P1 dan jumlah barang yang diperjualbelikan turun menjadi Q1.
Seterusnya perhatikanlah keadaan permintaan dan penawaran terhadap barang industri. Pada mulanya dimisalkan, permintaan dan penawarannya berturut-turut adalah Di dan Si. Berdasarkan pemisalan ini pada mulanya keseimbangan dicapai di titik Ei. Sesuai dengan sifat permintaan dan penawaran barang industri maka kedua kurva tersebut adalah relatif lebih elastis. Apabila berlaku kemerosotan ekonomi, perubahan permintaan ke atas barang industri telah memindahkan kurva dari Di  menjadi di . Maka keseimbangan yang baru adalah adalah pada ei , yang berarti harga telah turun ke Pi dan jumlah barang yang diperjualbelikan berkurang menjadi Qi.
Jelas kelihatan bahwa PP1  dalam grafik (i) adalah jauh lebih besar daripada PPi dalam grafik (ii) (walaupun digambarkan bahwa perubahan permintaan terhadap barang industri adalah kira-kira sama besar dengan perubahan terhadap barang pertanian). Ini membuktikan bahwa perubahan permintaan menimbulkan perubahan harga yang lebih besar terhadap harga barang pertanian daripada terhadap harga barang industri.
                                                By : Lilik Nur Kholidah (0910480241)

DAFTAR PUSTAKA
Azzino, Zulkifli. 1981. Pengantar TafaniagaPertanian. IPB. Bogor.
Herliana, L. 2004. Peranan Pertanian dalam Perekonomian Indonesia: Pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi dalam Perspektif Sructural Path Analysis. Tesis Magister. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hutabarat, B. 2001. Investasi Publi pada Sektor Pertanian di Era Otonomi. Forum Agro Ekonoi (FAE). 19(2):24-37.
Johansen, S. 1988. Statistical Analysis of Cointegrating Vectors. Journal of Economic Dynamics and Control. 12(2): 131-154.
Mubyarto. 1977. Penganfar Ekonomi Pertanian. Jakarta: LP3ES

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar