Rabu, 15 Juni 2011

SUMBER DAYA DALAM PERTANIAN

Sumber daya alam dan lingkungan hidup (SDA dan LH) mempunyai peran yang sangat penting dalam pembangunan nasional, baik sebagai penyedia bahan baku bagi pembangunan maupun sebagai pendukung sistem kehidupan. Sesuai amanat RPJMN 2010—2014, pembangunan SDA dan LH diarahkan pada dua kelompok, yaitu (1) untuk mendukung pembangunan ekonomi dan (2) untuk meningkatkan kualitas dan kelestarian lingkungan hidup. Pembangunan SDA dan LH yang mendukung pembangunan ekonomi dijabarkan dalam tiga prioritas, yaitu (1) peningkatan ketahanan pangan, dan revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan; (2) peningkatan ketahanan dan kemandirian energi; dan (3) peningkatan pengelolaan sumber daya mineral dan pertambangan. Pembangunan SDA dan LH untuk meningkatkan kualitas dan kelestarian lingkungan hidup ditekankan pada empat prioritas, yaitu (4) perbaikan kualitas lingkungan hidup; (5) peningkatan konservasi dan rehabilitasi sumber daya hutan; (6) peningkatan pengelolaan sumber daya kelautan; dan (7) peningkatan kualitas informasi iklim dan bencana alam serta kapasitas adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

A.    Jenis-jenis sumber daya dalam pertanian
1.      Lahan (sawah, tegal, kebun, hutan, tambak dll)
2.      Teknologi dan alat produksi ( alat-alat produksi, sistem budidaya, dan pengelolaan hasil pertanian)
3.      Sumber daya manusia (pelaku produksi pertanian)
4.      Sumber daya biotik ( flora dan fauna yang menunjang siklus produksi pertanian)
5.      Sumber daya abiotik ( air, tanah, udara, cahaya, matahari )
6.      Modal
7.      Manajemen
Secara umum, sumberdaya alam (SDA) berdasarkan jenisnya dibagi menjadi:
 (1) SDA yang dapat diperbaharui (renewable resources)
 (2) SDA yang tidak dapat diperbaharui (non renewable or exhaustible resources)

B. Faktor produksi pertanian :
      INPUT secara garis besar dapat dikelompokkan dalam lahan (A), tenaga kerja (L) dan modal (C). Produksi juga dipengaruhi oleh lingkungan (E), teknologi (T) dan karakteristik sosial petani (S).
      Apabila ditulis dalam sebuah fungsi matematika, maka produksi (Q) merupakan fungsi dari lahan, tenaga kerja, modal, lingkungan, teknologi dan karakteristik sosial petani, atau bisa dituliskan sebagai:  Q = f (A, L, C, E, T, S)
      Sumber daya pertanian bisa merupakan input atau faktor-faktor produksi dalam proses produksi pertanian.
      Proses produksi pertanian adalah proses yang mengkombinasikan faktor-faktor produksi pertanian (input) untuk menghasilkan produksi pertanian (output).
      Fungsi produksi dalam teori produksi menggambarkan hubungan teknis yang merubah input (sumberdaya) menjadi output  (komoditi).

C.Peran dan kendala dari masing-masing sumber daya tersebut :
1.      Lahan sebagai penyedia untuk mengolah tanaman pertanian. Namun permasalahnya banyaknya konversi lahan, kepemilikan lahan yang kurang luas atau terdapat di beberapa daerah dalam satu orang kepemilikan sehingga mengurangi efesiensi dalam penggarapan lahan pertanian, dan degradasi lahan banyak lahan yang sudah menurun unsur hara dan bahan organiknya sehingga akan menurunkan produksi pertanian.
2.      Teknologi dan alat produksi ( alat-alat produksi, sistem budidaya, dan pengelolaan hasil pertanian). Berfungsi sebagai alat untuk memudahkan pekerjaan dalam mengolah dan budidaya pertanian, menghemat waktu dan menghasilkan produksi pertanian yang melimpah daripada menggunakan tenaga kerja manusia. Kendalanya alat produksi yang relatif mahal, dan tidak semua petani dapat membeli alat tersebut. Selain itu faktor budaya dimana banyak petani yang lebih  memilih tetap menggunakan buruh tani karena sudah membudaya dan kekeluargaan dengan buruh tani tersebut.
3.      Sumber daya manusia (pelaku produksi pertanian)
      Dalam berbagai bidang, sumber daya manusia menjadi pelaku utama yang menggerakkan tata laksana sebuah institusi, maupun negara. Pemerintahan yang berjalan saat ini juga diisi oleh sumber daya manusia yang tentunya adalah orang-orang yang terpilih. Dalam kata lain, mereka yang dapat duduk menjalankan tugas negara itu adalah orang yang memiliki kapabilitas lebih dari pada yang lain.
Sumber daya manusia sebagai pengolah dan budidaya lahan pertanian. Kendalanya banyak tenaga manusia yang diganti ke mesin pertanian. Sehingga banyak pengangguran di pedesaan, mengakibatkan terjadinya urbanisasi dan meledaknya pengangguran di kota besar.
4.      Sumber daya biotik ( flora dan fauna yang menunjang siklus produksi pertanian)
Flora dan fauna menunjang aktivitas lingkungan pertanian dalam pertukaran siklus energi. Namun banyak flora dan fauna yang punah. Plasma nuthfah yang hilang sehingga mengurangi bahan keanekaragaman produksi pertanian.
5.      Sumber daya abiotik ( air, tanah, udara, cahaya, matahari )
Merupakan kebutuhan fital dalam menunjang produksi pertanian. Permasalahannya banyak air, tanah, udara yang tercemar sehingga menurunkan sterilitas dan berpengaruh pada hasil produksi pertanian.
6.      Modal
Keterbatasan modal petani dalam mengolah lahan pertanian, dikarenakan harga produksi pertanian tidak sebanding atau lebih kecil dari biaya produksi pertanian yang dikeluarkan. Produksi pertanian Indonesia bersaing dengan produk import pertania dari negara lain yang masuk di Indonesia.
7.      Manajemen (pengelolaan) usahatani adalah kemampuan petani dalam merencanakan, mengorganisir, mengarahkan, mengkoordinasikan dan mengawasi faktor produksi yang dikuasai/dimiliknya sehingga mampu menghasilkan output (produksi) seperti yang diharapkan. Karakteristik sosial ekonomi petani juga mempengaruhi proses produksi pertanian, terutama berkaitan dengan proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan usahatani, diantaranya adalah Pendidikan petani (formal & non formal), Pengalaman petani, Keanggotaan dalam organisasi misalnya kelompok tani dll.



D. Permasalahan yang dihadapi
Permasalahan yang dihadapi dalam pemanfaatan sumber daya alam untuk mendukung pembangunan ekonomi adalah masih belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan. Hal tersebut terlihat dari tingginya tingkat eksploitasi sumber daya hutan dan energi untuk pembangunan, serta kurang optimalnya usaha pertanian, perikanan, dan kehutanan dalam rangka mendorong ketahanan pangan dan perekonomian nasional. Sementara itu, permasalahan yang masih sering dihadapi dalam pemanfaatan sumber daya alam untuk meningkatkan kualitas dan kelestarian lingkungan hidup adalah isu penurunan kelestarian fungsi lingkungan hidup yang mengakibatkan penurunan daya dukung lingkungan serta ketersediaan sumber daya alam. Hal tersebut ditunjukkan dengan meningkatnya eksploitasi hutan oleh pembalakkan liar (illegal logging), kebakaran hutan, dan praktikpraktik pengelolaan yang belum optimal akibat belum terbentuknya kelembagaan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di tingkat tapak atau lapangan; serta meluasnya alih fungsi lahan pertanian dan tambak untuk kegiatan ekonomi lainnya.

E. Peningkatan Ketahanan Pangan dan Revitalisasi Pertanian
Sasaran utama prioritas peningkatan ketahanan pangan dan revitalisasi pertanian, adalah (1) terpeliharanya ketersediaan beras dan meningkatnya tingkat ketersediaan pangan pokok lainnya dari produksi dalam negeri; (2) tercapainya tingkat pertumbuhan PDB sektor pertanian rata-rata 3,7 – 3,9 persen per tahun; (3) meningkatnya aksesibilitas rumah tangga miskin dan rumah tangga rawan pangan terhadap pangan; (4) terjaganya stabilitas harga komoditas pangan pada tingkat yang terjangkau oleh kelompok masyarakat berpendapatan menengah ke bawah; (5) meningkatnya ketersediaan konsumsi sebagai sumber pangan protein hewani; (6) meningkatnya nilai tambah dan daya saing produk pertanian di kawasan Asia dan global; serta (7) membaiknya tingkat kesejahteraan petani yang diindikasikan oleh peningkatan indeks nilai tukar petani (NTP) menjadi 115—120 dan nilai tukar nelayan (NTN) menjadi 115—120. Berdasarkan sasaran utama tersebut, prioritas peningkatan ketahanan pangan difokuskan pada beberapa aspek berikut (1) peningkatan produksi dan produktivitas; (2) peningkatan efisiensi sistem distribusi dan stabilitas harga pangan; (3) peningkatan pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan; (4) peningkatan nilai tambah, daya saing, dan pemasaran; serta (5) peningkatan kapasitas masyarakat pertanian. Terkait dengan aspek produksi dan produktivitas, tantangan yang dihadapi dalam beberapa tahun ke depan adalah memantapkan ketahanan dan kemandirian pangan yang bertumpu pada produksi dalam negeri. Produksi bahan pangan dalam negeri harus dapat mengimbangi atau bahkan melebihi kebutuhan pangan dan kebutuhan bahan baku industri. Peningkatan permintaan akan bahan pangan akan semakin tinggi seiring dengan peningkatan jumlah penduduk serta daya beli dan selera masyarakat akan bahan pangan. Namun, di sisi lain, penurunan kualitas dan kuantitas sumber daya lahan, tambak, dan air akan menjadi kendala dan keterbatasan dalam meningkatkan kemampuan produksi komoditas pangan. Tingginya konversi lahan pertanian ke sektor lain dan semakin seringnya bencana alam yang terjadi menyebabkan produksi pangan terganggu. Jaminan penyediaan dan aksesibilitas masyarakat pertanian, perikanan, dan kehutanan terhadap masukan produksi (pakan, pupuk, dan benih) juga menjadi kendala lain yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas pertanian. Permasalahan lain yang dihadapi dalam rangka menjaga ketahanan pangan adalah upaya untuk menjaga stabilitas harga pangan dan aksesibilitas masyarakat terhadap pangan. Jumlah penduduk miskin yang masih cukup banyak menyebabkan rendahnya daya beli masyarakat bahkan masih ada masyarakat yang tidak mempunyai kesanggupan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan. Di sisi lain, masih terkonsentrasinya waktu dan tempat masa panen padi yang mengakibatkan pengadaan beras masih terpusat di wilayah panen dan memerlukan waktu serta ruang penyimpanan yang memadai. Upaya peningkatan pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan bagi masyarakat merupakan permasalahan yang dihadapi dalam rangka meningkatkan ketahanan pangan. Jumlah penduduk yang banyak tentu saja membutuhkan pasokan pangan yang mencukupi. Akan tetapi, sampai saat ini cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola masih kecil dibandingkan dengan kebutuhan untuk mencukupi konsumsi masyarakat apabila terjadi situasi krisis pangan. Selain itu, masih ada penduduk dan wilayah rawan pangan yang membutuhkan prioritas pemerintah dalam memberikan bantuan bahan pangan. Peningkatan nilai tambah dan daya saing produk pertanian dalam perdagangan dan pemasaran juga masih menjadi tantangan dan permasalahan. Kurang memadainya sarana dan prasarana untuk pemasaran produk pertanian merupakan salah satu penyebabnya. Hal ini diperparah dengan tidak adanya dukungan institusi pemasaran gabah-beras di tingkat pedesaan sehingga menyebabkan tidak optimalnya proses pengadaan yang pada akhirnya merugikan semua pelaku usaha di bidang pertanian. Walaupun kemampuan produksi beberapa komoditas pertanian telah meningkat, tetapi daya saing produk pertanian Indonesia di pasar ekspor dan pasar domestik secara umum masih perlu ditingkatkan. Rendahnya kapasitas atau kualitas masyarakat pertanian masih menjadi permasalahan yang dihadapi. Petugas penyuluh yang diterjunkan ke daerah-daerah, kurang mendapatkan perhatian sehingga petani kurang mendapatkan manfaat dari petugas penyuluh tersebut. Efisiensi kelembagaan petani atau petani hutan pembudidaya masih perlu terus ditingkatkan. Dengan jumlah petani atau petani hutan yang relatif banyak, pengembangan kelembagaan petani atau nelayan akan menjadi potensi yang sangat besar untuk pembangunan. Untuk itu, perlu dukungan peningkatan efektivitas sistem kelembagaan penelitian dan inovasi teknologi.

By : Uswatun Hasanah (0910480160)



DAFTAR PUSTAKA

·         Addief.2007.Keanekaragaman Sumber Daya Alam dan Konservasinya.http://addiehf.wordpress.com/.Diakses 20 Maret 2011.
·      Renstrada.2011.Bab 11.http://www.bappedajakarta.go.id/download/renstrada/Renstrada_Bab11.pdf.Diakses 20 Maret 2011.
·         Sugindo, I.2010.Sumber Daya Manusia Pertanian.http://bikinmikir.blogspot.com/.Diakses 20 Maret 2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar